FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP REMAJA TENTANG SEKS BEBAS

Susanti Susanti, Widyoningsih Widyoningsih

DOI: http://dx.doi.org/10.26751/jikk.v10i2.721

Abstract

Remaja merupakan tahapan usia dimana didalamnya banyak sekali terjadi perubahan. Baik perubahan biologis, psikologis, maupun sosial, spiritual. Salah satu perubahan biologis yang terjadi adalah adanya hasrat seksual. Banyak faktor yang dapat memicu munculnya hasrat seksual remaja yang membutuhkan penyaluran dalam bentuk perilaku seksual, yaitu seks bebas yang dapat mengarah pada Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Seks bebas juga menjadi salah satu penyebab tingginya HIV/AIDS. Menurut data di Voluntary Concelling and Testing (VCT) RSUD Cilacap, tahun  2014 terdapat 550 orang dengan HIV/AIDS usia antara 10-19 tahun sebanyak 9 anak (2,82%), Cilacap merupakan wilayah Kabupaten yang memiliki penderita HIV/AIDS terbanyak ketiga se-Jawa Tengah. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap tahun 2010 terdapat 44 Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  bagaimana karakteristik remaja yang memiliki prediktor tinggi perilaku seks bebas yang berisiko HIV/AIDS. Metode penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain cross sectional dengan jumlah sampel 43 responden dan pengambilan data menggunakan purposive sampling dengan analisis Chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh karakteristik remaja (kondisi rumah tangga orang tua dengan nilai p 0.868, status pacaran dengan nilai p 0.646 dan tempat tinggal) dengan sikap remaja tentang seks bebas dengan nilai p 0.599.

 

Full Text:

PDF

References


Azinar Muhammad. (2013). Perilaku Seksual Pranikah Berisiko Terhadap Kehamilan Tidak Diinginkan. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(2), 153–160. Retrieved from http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas

Irmawaty Leny. (2013). Perilaku Seksual Pranikah Pada Mahasiswa. Jurnal Kesehatan Masyarakat KEMAS, 9(1), 44–52. Retrieved from https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas/article/view/2829

K Irianto. (2015). Kesehatan Reproduksi (Reproduksi Health) Teori dan Praktikum. Bandung: Alfabeta.

Nappi, C., Thakral, C., Kapungu, C., Donenberg, G. R., DiClimente, R., & Brown, L. (2009). Parental monitoring as a moderator of the effect of family sexual communication on sexual risk behavior among adolescents in psychiatric care. AIDS Behav, 13(5), 1012–1020. https://doi.org/10.1007/s10461-008-9495-9

Nurfitria. (2016). Hubungan Status Pacaran Dengan Sikap Seks Bebas Pada Remaja Di Alun-ALun Kidul Yogyakarta. Yogyakarta. Retrieved from http://digilib.unisayogya.ac.id/2041/1/NASKAH PUBLIKASI.pdf

O, K., Geckova, A. M., Klein, D., Jarcuska, P., Orosova, O., Dijk, J. Van, & Reijneveld, S. (2013). Mother’s and father’s monitoring is more important than parental social support regarding sexual risk behaviour among 15-year-old adolescents. Eur J Contracept Reprod Health Care, 18(2), 95–103. https://doi.org/10.3109/13625187.2012.752450

Susanti. (2017). Karakteristik Penderita HIV/AIDS Di Klinik VCT Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap Tahun 2013-2016. Viva Medika, 10(01), 20–27. Retrieved from urnal.shb.ac.id/ojs/index.php?journal=VM&page=article&op=view&path[]=363

Wagino. (2014). Akibat Seks bebas, 11 remaja di Cilacap terinfeksi HIV/AIDS. Retrieved from http://www.cilacapmedia.com/index.php/kesehatan/2431-akibat-seks-bebas-11-pelajar-di-cilacap-terinfeksi-hivaids.htm


Article Metrics

Abstract view : 0 times
PDF - 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.