PENERAPAN NILAI KEADILAN GENDER DALAM PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (ANALISIS TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 88/PUU-XIV/2016 TENTANG UU NO. 13 TAHUN 2012 PASAL 18 AYAT (1) HURUF M)

Thoriq Ashiddiqi

Abstract

Banyaknya tindak pidana yang dilakukan oleh anak mengakibatkan adanya upaya guna mencegah dan menanggulanginya, salah satunya adalah penyelenggaraan Sistem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Criminal Justice System). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU-SPPA) memberikan definisi berupa keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana. UU-SPPA merumuskan diversi sebagai pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana keproses diluar peradilan pidana. Penuntut Umum Anak sebagai aparat fungsional dari Lembaga Kejaksaan Republik Indonesia merupakan salah satu bagian pelaksana sistem peradilan pidana anak di Indonesia. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa diversi di tingkat penuntutan dikatakan berhasil apabila para pihak mencapai kesepakatan, dan hasil kesepakatan tersebut dituangkan dalam bentuk kesepakatan diversi. Namun diversi ditingkat penuntutan dikatakan gagal apabila tidak terjadi kesepakatan bersama antara pelaku dan korban. Implementasi Diversi Sebagai Suatu Perlindungan Bagi Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Pada Tingkat Penuntutan dilakukan oleh Penuntut Umum Anak yang bertindak sebagai fasilitator dan dilakukan dengan memanggil para pihak yaitu terdakwa, orang tua terdakwa, para korban (keluarga korban yang meninggal serta korban yang mengalami luka berat), perwakilan dari BAPAS, Penasihat Hukum yang mendampingi terdakwa. Kendala dalam pelaksanaan upaya diversi pada tingkat penuntutan antara lain : Kurangnya keahlian yang dimiliki seorang jaksa untuk menjadi fasilitator, belum tersedianya Ruang Khusus Anak, kurangnya pemahaman para pihak tentang pelaksanaan diversi, serta pengiriman berkas perkara dari penyidik ke kejaksaan terlalu dekat dengan habisnya masa penahanan.


Full Text:

PDF

References


Analogi Contrario (no date). Available at: https://yusranlapananda.wordpress.com/2012/07/19/analogi-dan-a-contrario/ diakses pada tanggal 20 Februari 2018.

Asikin, Z. (2013) Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Rajawali Pers.

Juhariyah (2016) Dinamika Hukum dan HAM. Jakarta: Cintya Press.

Kaligis, O. . (2006) PERLINDUNGAN HUKUM ATAS HAK ASASI TERSANGKA, TERDAKWA DAN TERPIDANA. Bandung.

Putusan Mahkamah Konstitusi (2016).

Rizani, R. (2016) ‘No Title’, Sabdatama dan Sabdaraja Lex Renaissance, 1, p. 27.

Sesung, R. (2013) No Title. Bandung: Refika Aditama.

Tempo (no date) Sejarah Mataram Islam. Available at: https://nasional.tempo.co/read/664028/sejarah-mataram-Islam-terputus-jika-perempuan-jadi-sultan di akses pada tanggal 26 Juni 2018 (Accessed: 26 June 2018).

Undang-undang Keistimewaan Nomor 13 Tahun 2012 (2012).

Wikipedia (no date) No Title. Available at: https://id.wikipedia.org/wiki/Putra_mahkota, diakses pada tanggal 11 Desember 2017.


Article Metrics

Abstract view : 2 times
PDF - 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.